Postingan

Menampilkan postingan dari Februari, 2011

Inikah Nasib?

Sore ini saya ingin berbagi sebuah cerita lagi. sebuah catatan dari seorang kawan saya di jejaring social. InsyaAllah sobat yang sedang bahagia akan bersyukur dan yang sedang bersedih gak akan lagi larut dalam kesedihan.

25 tahun yang lalu,
Inikah nasib? Terlahir sebagai menantu bukan pilihan. Tapi aku dan Kania harus tetap menikah. Itu sebabnya kami ada di Kantor Catatan Sipil. Wali kami pun wali hakim. Dalam tiga puluh menit, prosesi pernikahan kami selesai. Tanpa sungkem dan tabur melati atau hidangan istimewa serta salam sejahtera dari kerabat. Tapi aku masih sangat bersyukur karena Lukman dan Naila mau hadir menjadi saksi. Umurku sudah menginjak seperempat abad dan
Kania di bawahku.. Cita-cita kami sederhana,ingin hidup bahagia.

22 tahun yang lalu,
Pekerjaanku tidak begitu elit, tapi cukup untuk biaya makan keluargaku. Ya, keluargaku. Karena sekarang aku sudah punya momongan. Seorang putri, kunamai ia Kamila. Aku berharap ia bisa menjadi perempuan sempurna, maksudku ka…

Harapan Senja

Gambar
Langit diatasku murung muka.
Meneteskan air mata kepedihan carut marut pagelaran mayada pada.
Entah sampai kapan, hanya burung-burung merpati yang mengepakkan sayapnya. 
Ku dengar berbisik bahwa inilah kehidupan kawan.


Siapa yang akan menyangka tatkala tangisan itu kan berubah terangnya sinar ibu.
Hei... engkau yang berbisik tentang keluh kesahmu.
Tak pernahkah kau mau mendengar lelahnya telingaku.

ahh... petang yang kelam segeralah sirna....

15.44 25/11/2011 B5

Krawang Bekasi (Chairil Anwar)

KRAWANG-BEKASI
by Chairil Anwar (1948)

Kami yang kini terbaring antara Krawang-Bekasi
tidak bisa teriak "Merdeka" dan angkat senjata lagi.
Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami,
terbayang kami maju dan mendegap hati ?

Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
Kami mati muda. Yang tinggal tulang diliputi debu.
Kenang, kenanglah kami.

Aku (Chairil Anwar)

AKU
by Chairil Anwar (Maret 1943)

Kalau sampai waktuku
'Ku mau tak seorang kan merayu
Tidak juga kau

Tak perlu sedu sedan itu

Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang

Raja Dan Empat Istrinya

Pada catatan kali ini saya ingin berbagi sebuah cerita yang saya dapatkan dari seorang teman facebook tentang seorang raja yang memiliki epat orang isteri. Silahkan dibaca pelan-pelan ya...
Dahulu kala... Ada seorang raja yang mempunyai 4 isteri. Raja ini sangat mencintai isteri ke empat dan selalu menghadiahkannya pakaian-pakaian yang mahal dan memberinya makanan yang paling enak. Hanya yang terbaik yang akan diberikan kepada sang isteri ke empat.

Dia juga sangat memuja isteri ke tiga dan selalu memamerkannya ke pejabat-pejabat kerajaan tetangga. Itu karena dia takut suatu saat nanti, isteri ke tiganya ini akan meninggalkannya.

Sang raja juga menyayangi isteri ke dua. Karena isterinya yang ke dua ini merupakan tempat curahan hatinya, yang akan selalu ramah, peduli dan sabar terhadapnya. Pada saat sang raja menghadapi suatu masalah, dia akan mengungkapkan isi hatinya hanya pada isteri ke dua ini karena dia bisa membantunya melalui masa-masa sulit itu.

Isteri pertama raja a…

Akhirnya...

Akhirnya??? masih mau mulai kok dah akhirnya.... wkwkkwkw Setelah sekian lama tidak aktif tulis menulis lagi, ternyata rasa rindu itu datang juga. Yah... hari ini saya akan mencoba kembali berbagi lewat tulisan. Semoga kali ini saya bisa serius berbagi lewat tulisan-tulisan di blog ini. Catatan Jaka, ya... lewat blog ini saya akan belajar lagi menulis apa yang saya lihat, saya dengar, saya rasakan, dan sedang saya fikirkan. semoga aja gak banyak yang hanya copy paste aja... hehehehhehe Menulis memang bukan sesuatu yang mudah. Tapi asal dijalani aja pasti akan sampai pada mudahnya. ^_*. Mohon doa restunya ya!